Hari Sumpah Pemuda
Pagi itu, halaman sekolah tampak lebih semarak dari biasanya. Deretan peserta didik yang mengenakan kebaya dengan aneka warna lembut memenuhi lapangan, menghadirkan nuansa anggun dan penuh makna. Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, seluruh peserta upacara diwajibkan mengenakan pakaian adat, dan kebaya menjadi simbol keanggunan serta kecintaan para peserta didik terhadap budaya bangsa.
Upacara dimulai pukul 07.00, diawali dengan barisan peserta yang berdiri rapi di bawah sinar matahari pagi. Ketika sang pembina upacara memasuki lapangan, suasana menjadi hening penuh khidmat. Lagu Indonesia Raya berkumandang, suara merdu para peserta berpadu dengan gerakan anggun mereka yang tetap menjaga sikap sempurna dalam balutan kebaya.
Setelah pengibaran bendera, pembina upacara menyampaikan amanat tentang makna Sumpah Pemuda dan pentingnya persatuan generasi muda Indonesia. Beliau menekankan bahwa semangat para pemuda tahun 1928 harus terus dihidupkan melalui prestasi, rasa kebangsaan, dan pelestarian budaya—termasuk dengan bangga mengenakan kebaya seperti pada hari itu.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan naskah Sumpah Pemuda, yang dibacakan oleh perwakilan peserta didik dan dikutin serenta oleh seluruh peserta upacara. Suara lantang mereka menggema di seluruh lapangan, seolah mengingatkan kembali bahwa bahasa, tanah air, dan bangsa Indonesia adalah identitas yang harus dijaga bersama.
Usai upacara, para peserta didik dan guru mengabadikan momen dengan berfoto bersama. Paduan warna kebaya yang cantik membuat suasana terasa hangat dan penuh kebersamaan. Dengan bangga, mereka menutup kegiatan hari itu dengan harapan semangat Sumpah Pemuda terus hidup dalam diri setiap generasi penerus bangsa.